ornamen ornamen ornamen

Pojok Guru

Home // Pojok Guru

PANGGILAN JIWA MENJADI GURU

18 Agustus 2026

22 views

PANGGILAN JIWA MENJADI GURU
Pendidikan, Motivasi

"Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani."
 (Ki Hadjar Dewantara, 2004)


Di antara sekian banyak profesi yang ada di dunia, menjadi guru adalah salah satu pilihan hidup yang paling sarat makna. Tidak semua orang mampu menjadi guru, dan tidak semua guru mampu bertahan dalam pengabdiannya. Sebab menjadi guru bukan hanya soal menguasai materi pelajaran, menyusun perangkat pembelajaran, atau memberikan penilaian kepada murid. Menjadi guru adalah tentang kesiapan hati untuk mendampingi manusia bertumbuh (Mulyasa, 2022). 


Setiap pagi seorang guru melangkah menuju sekolah dengan membawa harapan. Di hadapannya duduk puluhan murid dengan latar belakang yang berbeda-beda. Ada yang datang dengan semangat, ada yang datang dengan berbagai persoalan keluarga, ada yang penuh percaya diri, dan ada pula yang sedang berjuang menemukan jati dirinya. Di tengah keberagaman itu, guru hadir sebagai cahaya yang menerangi jalan mereka. 


Profesi guru tidak selalu menawarkan kemudahan. Terkadang guru harus menghadapi berbagai tantangan yang menguras tenaga, pikiran, bahkan perasaan. Namun di balik semua itu tersimpan kebahagiaan yang tidak selalu dapat diukur dengan materi. Kebahagiaan itu muncul ketika melihat murid berkembang dan berhasil mencapai potensinya. 

 

Mengapa Saya Memilih Menjadi Guru 

Setiap guru memiliki cerita yang berbeda tentang alasan memilih profesi ini. Ada yang sejak kecil bercita-cita menjadi guru karena terinspirasi oleh sosok gurunya di sekolah. Ada pula yang menemukan makna hidup melalui dunia pendidikan (Mulyasa, 2022). Apa pun jalan yang mengantarkan seseorang menjadi guru, pada akhirnya ada satu benang merah yang menghubungkan semuanya: keinginan untuk memberi manfaat bagi orang lain. Guru tidak hanya mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter, menanamkan nilai, dan menumbuhkan harapan. 


Ketika seorang guru mendidik murid dengan baik, dampaknya dapat menjangkau generasi demi generasi. Pendidikan memiliki daya transformasi yang sangat besar dalam kehidupan manusia dan masyarakat. Seorang guru mungkin tidak pernah menyadari sejauh mana pengaruhnya. Kalimat sederhana yang diucapkan di ruang kelas dapat menjadi sumber motivasi yang diingat murid selama puluhan tahun. Sikap sabar yang ditunjukkan guru dapat menjadi teladan yang diwariskan dari generasi ke generasi. 


Nelson Mandela pernah berkata, "Education is the most powerful weapon which you can use to change the world" (Mandela, 2003). Pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia. Jika pendidikan adalah senjatanya, maka guru adalah penggerak yang mengarahkan senjata tersebut menuju perubahan yang lebih baik. 


Menjadi guru juga mengajarkan bahwa keberhasilan tidak selalu diukur dari pencapaian pribadi. Dalam dunia pendidikan, keberhasilan sering kali terlihat dari keberhasilan orang lain. Ketika murid berkembang dan berhasil mencapai cita-citanya, guru turut merasakan kebahagiaan dan kebanggaan yang mendalam. 

 

Guru sebagai Profesi Mulia 

Dalam banyak budaya dan peradaban, guru selalu menempati posisi yang terhormat. Kemajuan suatu bangsa sangat bergantung pada kualitas pendidikannya, sedangkan kualitas pendidikan sangat bergantung pada kualitas gurunya (Mulyasa, 2022). 


Guru adalah fondasi pembangunan peradaban. Di balik lahirnya para pemimpin, ilmuwan, ulama, penulis, dan tokoh-tokoh besar selalu ada guru yang membimbing mereka. Ki Hadjar Dewantara mengingatkan, "Ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso, tut wuri handayani" (Dewantara, 2004). Ungkapan tersebut menggambarkan peran guru sebagai teladan, penggerak, dan pemberi semangat. 

Dalam Islam, kemuliaan ilmu dan orang yang mengajarkannya ditegaskan dalam QS. Al-Mujadilah ayat 11 : 

 

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْۚ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ 


Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu “Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,” lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Apabila dikatakan, “Berdirilah,” (kamu) berdirilah. Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Mujadilah: 11) (Kementerian Agama RI, 2019). 

  

Rasulullah saw. juga bersabda: 


خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ 


"Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur'an dan mengajarkannya." (HR. Bukhari No. 5027). Hadis ini memperlihatkan betapa mulianya aktivitas mengajar dalam Islam. Namun kemuliaan guru bukan berarti perjalanan mereka selalu mudah. Guru dituntut untuk terus belajar, beradaptasi dengan perkembangan zaman, dan memahami kebutuhan murid yang terus berubah. 

 

Mengajar sebagai Ibadah 

Bagi seorang muslim, mengajar bukan hanya aktivitas profesional, melainkan juga ibadah. Segala aktivitas yang dilakukan karena Allah dan memberikan manfaat bagi sesama dapat bernilai ibadah. Ketika seorang guru masuk ke kelas dengan niat memberikan ilmu yang bermanfaat, langkah kakinya bernilai ibadah. Kesabaran, ketulusan, dan pengorbanan dalam mendidik murid menjadi bagian dari amal saleh yang bernilai di sisi Allah (Al-Ghazali, 2011). 


Pentingnya ilmu kembali ditegaskan dalam QS. Az-Zumar ayat 9 :


قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَۗ اِنَّمَا يَتَذَكَّرُ اُولُوا الْاَلْبَابِࣖ…. 


Katakanlah (Nabi Muhammad), “Apakah sama orang-orang yang mengetahui (hak-hak Allah) dengan orang-orang yang tidak mengetahui (hak-hak Allah)?” Sesungguhnya hanya ululalbab (orang yang berakal sehat) yang dapat menerima pelajaran. (QS. Az-Zumar: 9) (Kementerian Agama RI, 2019). 


Rasulullah saw. memberikan kabar gembira melalui hadis tentang amal jariyah : 

"Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya." (HR. Muslim No. 1631). 


Tidak banyak profesi yang memiliki peluang amal jariyah sebesar profesi guru. Karena itu, seorang guru perlu menjaga niat dan keikhlasannya dalam mendidik. 

 

Mengajar sebagai Pengabdian 

Selain sebagai ibadah, mengajar juga merupakan bentuk pengabdian. Pengabdian berarti memberikan diri untuk sesuatu yang lebih besar daripada kepentingan pribadi. Tidak jarang seorang guru memikirkan murid-muridnya bahkan setelah jam pelajaran berakhir. Ia terus mencari cara agar murid dapat berkembang secara optimal. 


Guru menemukan makna hidupnya melalui pelayanan kepada murid-muridnya. Pendidikan adalah proses jangka panjang. Apa yang ditanam hari ini mungkin baru akan berbuah bertahun-tahun kemudian. Namun guru yang memiliki jiwa pengabdian tidak pernah lelah menanam benih kebaikan. 

 

Menjadi Guru yang Berdampak 

Ukuran keberhasilan seorang guru bukan hanya berapa banyak materi yang berhasil disampaikan, tetapi seberapa besar dampak yang ia berikan kepada kehidupan murid. Guru yang berdampak mampu menumbuhkan karakter, semangat belajar, dan inspirasi bagi murid-muridnya. Murid mungkin akan melupakan sebagian pelajaran yang pernah diajarkan, tetapi mereka tidak akan mudah melupakan bagaimana seorang guru memperlakukan mereka. Hubungan positif antara guru dan murid merupakan salah satu faktor penting dalam keberhasilan pendidikan. 


Menjadi guru adalah anugerah sekaligus amanah. Ketika seorang guru berdiri di depan kelas, sesungguhnya ia sedang berdiri di depan masa depan bangsa. Setiap ilmu yang diajarkan adalah cahaya, setiap murid adalah amanah, dan setiap proses pendidikan merupakan investasi jangka panjang bagi peradaban manusia (Mulyasa, 2022). 

  

DAFTAR PUSTAKA 

Al-Bukhari, M. I. (2002). Shahih Al-Bukhari. Beirut: Dar Ibn Katsir. 

Al-Ghazali. (2011). Ihya Ulumuddin. Jakarta: Republika. 

Dewantara, K. H. (2004). Karya Ki Hadjar Dewantara Bagian Pertama: Pendidikan. Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa. 

Kementerian Agama Republik Indonesia. (2019). Al-Qur'an dan Terjemahannya Edisi Penyempurnaan 2019. Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an. 

Mandela, N. (2003). Lighting Your Way to a Better Future: Speech at the Launch of Mindset Network, Johannesburg, South Africa, 16 July 2003. Nelson Mandela Foundation. 

Mulyasa, E. (2022). Menjadi Guru Penggerak Merdeka Belajar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 

Muslim, I. H. (2006). Shahih Muslim. Riyadh: Darussalam. 

Komentar

Belum ada komentar.

Tentang Penulis

Mahmud Jaenudin., S.Pd.I., Gr

Mahmud Jaenudin., S.Pd.I., Gr

S1

Tidak ada deskripsi tersedia.

Ditulis oleh:

Mahmud Jaenudin., S.Pd.I., Gr

Bagikan: