ornamen ornamen ornamen

Pojok Guru

Home // Pojok Guru

CAHAYA DARI PESANTREN: ‘KESEMPATAN’ YANG MENGGETARKAN BATIN

14 December 2025

134 views

CAHAYA DARI PESANTREN: ‘KESEMPATAN’ YANG MENGGETARKAN BATIN
Gagasan

Refleksi dan Harapan atas Film Tim Media Pesantren Modern Khalifah pada ajang SANFFEST 2025

 

Menggetarkan Batin Sang Pimpinan

Ada momen yang mengguncang batin seorang pimpinan pesantren, tepatnya kemarin sabtu 13 Desember siang hari menjelang sholat zuhur ketika pesan singkat dari salah satu ustadz pengajar masuk melalui whatsapp pribadi. Pesan ini sebuah kabar yang tak biasa: film karya Tim Media Pesantren Modern Khalifah, di bawah bimbingan Ustadz Muhammad Hilman Ardiana, berhasil masuk nominasi tiga besar pada ajang SANFFEST 2025 festival film santri tingkat nasional yang diadakan oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.

Film tersebut berjudul “Kesempatan.” Sebuah karya yang lahir dari semangat para santri yang rendah hati namun memiliki visi besar. Dalam suasana pesantren yang sarat nilai tauhid dan akhlak, lahirlah film penuh makna ini hingga mendapat pengakuan nasional di tiga kategori: Pemeran Putri Terbaik, Penyunting Gambar Terbaik, dan Sinematografi Terbaik.

Kabar ini bukan hanya tentang penghargaan. Ia adalah gema perubahan, tanda bahwa pesantren kini telah menjelma menjadi ruang kreatif yang hidup dan mampu berbicara di panggung kebudayaan bangsa.


12 Tahun Menapak, Sudah Menembus Dunia

Pesantren Modern Khalifah baru berusia 12 tahun, usia yang relatif muda untuk sebuah lembaga pendidikan Islam. Namun dalam dua belas tahun itu, pesantrennya telah membuktikan kematangan arah dan semangat pembaruan.

Keberhasilan film Kesempatan menjadi nominasi nasional menunjukkan bahwa PM Khalifah tidak hanya mendidik santri membaca teks, tetapi juga memahami konteks. Santri didorong tidak berhenti pada hafalan, tapi diarahkan untuk menafsirkan kehidupan dan mengemas nilai-nilai Islam melalui cara yang menyentuh hati masyarakat luas — salah satunya lewat film.

Maka tak mengherankan bila kemunculan nama pesantren ini di daftar nominasi SANFFEST 2025 membuat hati para guru dan pimpinan bergetar penuh syukur. Sebuah pesantren yang baru 12 tahun berdiri, kini mampu bersaing dan berdiri sejajar dengan pesantren besar lain di level nasional.


“Kesempatan”: Sebuah Cermin Diri Generasi Santri

Film Kesempatan mengisahkan Farah, seorang santri yang pulang ke rumah saat liburan. Namun selama di rumah, ia terjebak dalam kebiasaan buruk yang banyak melanda generasi kini — terlalu sibuk dengan gawai (HP).

Farah menghabiskan waktu menatap layar hingga lalai berinteraksi dengan ibunya. Setiap kali sang ibu mencoba berbicara, Farah hanya menjawab singkat sambil terus menatap ponsel. Sang ibu kecewa, bahkan marah, karena merasa diabaikan oleh anak yang selama ini ia banggakan sebagai santri.

Klimaksnya datang ketika Farah tertidur dan bermimpi: ia melihat ibunya mengalami kecelakaan mobil. Dalam mimpi itu, tangis dan kecemasan menyadarkannya betapa besar cintanya kepada ibunya dan betapa ia telah lalai dalam berbakti. Saat terbangun, ia menangis, memohon ampun, dan berjanji akan memperbaiki diri.

Cerita sederhana ini menyentuh nurani. Ia mengingatkan kita semua bahwa teknologi tidak boleh memisahkan kasih anak dari orangtua, apalagi menjauhkan nilai akhlak dari hati seorang santri.


Dakwah Visual: Menghidupkan Nilai dengan Lembut

Dakwah melalui film bukan hal baru, tapi Kesempatan menghadirkannya dengan nuansa khas pesantren — lembut, moral, dan penuh makna. Tidak ada teriakan, tidak ada penghakiman; hanya renungan hati yang tumbuh dari peristiwa sederhana.

Pesan moral film ini membuka ruang tafakur. Ia mengajak penonton, terutama kalangan muda, untuk merenungkan betapa pentingnya menjaga hubungan dengan orangtua di tengah godaan dunia digital.

Kesempatan mengajarkan bahwa dakwah bisa hadir di layar sinema, dengan keindahan visual yang menuntun, bukan hanya menghibur. Kamera menjadi alat dakwah, lensa menjadi mata hati, dan setiap adegan menjadi pesan agar manusia kembali kepada fitrahnya: berbakti, berakhlak, dan bersyukur.


Di Balik Karya: Bimbingan dan Keteladanan

Di balik pencapaian besar ini ada bimbingan Ustadz Muhammad Hilman Ardiana, sosok guru muda dan energik yang memfasilitasi santri untuk berani berekspresi namun tetap berpegang pada nilai adab. Beliau bukan sekadar pembimbing teknis, tetapi penanam ruh: bahwa setiap karya harus dimulai dari niat lillāhi ta‘ālā.

Melalui tangan dan arahannya, Tim Media PM Khalifah yang terdiri dari santri SMA Khalifah Boarding School tumbuh sebagai kelompok santri visioner yang melihat dunia digital sebagai sarana dakwah, bukan sekadar hiburan. Apa yang mereka lakukan adalah bagian dari jihad ilmiah — memerangi degradasi moral dengan pesan kebaikan yang disampaikan dengan cara yang menarik dan menyentuh.


Santri sebagai Pelopor Peradaban Kreatif

Kehadiran santri di dunia film adalah bukti nyata bahwa pesantren tidak tertinggal oleh zaman, tetapi justru menyiapkan peradaban baru yang berakhlak dan berbudaya.

Santri modern tidak hanya membaca kitab, tetapi juga menggali hikmah dari realitas. Mereka bukan hanya menafsirkan ayat, tetapi juga merangkai adegan kehidupan menjadi pesan moral yang menyentuh.

Film Kesempatan membuktikan bahwa dakwah tidak lagi eksklusif di mimbar masjid, tapi juga di layar dan festival. Di sana, nilai-nilai pesantren dibungkus seni sehingga bisa diterima banyak kalangan tanpa kehilangan ruh keislaman.


Dari Nominasi ke Amanah

Tiga nominasi dalam SANFFEST 2025 — Pemeran Putri Terbaik, Penyunting Gambar Terbaik, dan Sinematografi Terbaik — tentu merupakan kebanggaan. Namun bagi dunia pesantren, pencapaian ini tidak hanya berarti penghargaan, melainkan amanah besar.

Amanah untuk terus berkarya dengan keikhlasan. Amanah untuk menjaga nilai dakwah dalam setiap visual dan narasi. Dan amanah untuk menularkan semangat kepada pesantren lain agar ikut bergerak di bidang seni dan media.

Jika film ini meraih kemenangan, semoga keberhasilan itu menjadi titik tolak menuju karya-karya yang lebih luas manfaatnya. Namun bila pun tidak, mereka telah menang di sisi Allah, karena niat mereka adalah menebar ilmu dan akhlak.


Refleksi Pendidikan Pesantren

Keberhasilan ini mengingatkan bahwa pendidikan pesantren tidak hanya membentuk kecerdasan spiritual, tetapi juga mengasah kepekaan sosial dan emosional.

Kesempatan mengajarkan santri bahwa kreativitas tidak boleh terpisah dari akhlak. Sebagaimana dikatakan Imam Al-Ghazali dalam Ihyā’ ‘Ulūmiddīn, “Ilmu tanpa amal adalah kegilaan, dan amal tanpa ilmu adalah kesia-siaan.” Demikian pula dengan seni tanpa iman — indah di luar, tetapi hampa di dalam.

Pesantren seperti PM Khalifah telah mampu menjembatani dua dunia itu: dunia ilmu dan dunia seni. Keduanya berjalan beriringan, menghasilkan keseimbangan antara dzikir dan fikir, antara nilai dan karya.


Harapan: Ekosistem Santri Kreatif

Dari panggung SANFFEST 2025 ini, harapan besar tumbuh. Agar dunia pesantren di seluruh Indonesia tersadar bahwa santri kreatif adalah kekayaan umat.

Bayangkan jika setiap pesantren memiliki tim media yang solid, yang mengubah kisah hidup santri menjadi film, puisi visual, atau konten bermakna. Betapa besar pengaruhnya terhadap peradaban Islam di tengah banjir konten digital kosong nilai.

Maka, keberhasilan Tim Media PM Khalifah harus menjadi model inspiratif nasional. Kolaborasi antar pesantren, pelatihan sinematografi islami, dan dukungan dari pemerintah maupun lembaga keagamaan akan membuka jalan bagi munculnya “gelombang santri kreatif” di tanah air.


Penutup: Kesempatan Bagi Semua

Judul film ini, Kesempatan, seolah memiliki makna simbolik yang dalam. Ia bukan sekadar nama karya, tetapi pesan universal: setiap orang memiliki kesempatan untuk berubah, memperbaiki diri, dan berbuat baik.

Bagi Farah dalam film, kesempatan itu adalah panggilan untuk kembali berbakti kepada ibunya.
 Bagi santri pembuat film, kesempatan itu adalah ruang dakwah yang baru.
 Dan bagi Pesantren Modern Khalifah, kesempatan ini adalah Momentum — untuk terus melangkah, membawa wajah pesantren ke panggung dunia dengan akhlak, ilmu, dan karya.

Malam Anugerah SANFFEST 2025 pada 21 Desember 2025 nanti akan menjadi saksi: bahwa dari sebuah pesantren berusia 12 tahun, lahir generasi penerus peradaban Islam yang mampu berdakwah dengan estetika, berpikir dengan adab, dan berkarya dengan cinta. Wallahu 'alam

 

Gubug Ilmu, 14 Desember 2025

 

Komentar

abdul muiz 2 months ago
Subhanallah, pesantren Khalifah insyaallah mencetak pemimpin yang berkarakter mulia...

Tentang Penulis

H. Hendar Ali, Lc., M.Pd.

H. Hendar Ali, Lc., M.Pd.

Saat ini sebagai direktur Pesantren Modern Khalifah, penceramah dan pembimbing haji–umrah. Pernah berdakwah di Malaysia, Hong Kong, dan Makau. Pernah menjabat Ketua IKADI Kab. Sukabumi dan kini aktif sebagai pengurus MUI daerah.

Ditulis oleh:

H. Hendar Ali, Lc., M.Pd.

Bagikan: